Senin, 21 Maret 2011

ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS

PERANAN ORANG TUA DENGAN ANAK
BERKEKHUSUSAN
1
(sekedar bermimpi akan adanya perbaikan)

Julia Maria van Tiel

Orang tua anak berkekhususan
gifted visual spatial learner.
Pembina kelompok diskusi orang tua anak
gifted
anakberbakat@yahoogroups.com
1
Dibawakan dalam acara Seminar dan Workshop IlmiahThe Best Future For Special Needs Children,
Kasandra & Associate bekerjasama dengan Ikatan Psikologi Klinis dan Universitas
Persada Indonesia YAI
, Jakarta, 24 Juli, 2010
Bila anak lahir membawa kekhususan
Tugas pengasuhan yang berat dan penuh dilema
Perlu memahami tumbuh kembang anak
Perlu memahami pola alamiah tumbuh kembang anak berkekhususan
Membutuhkan informasi dan intervensi yang EBP
Membutuhkan jalur rujukan dan protokol yang jelas
Membutuhkan layanan kolaboratif dan multidisiplin
Membutuhkan metoda pendidikan yang sesuai
Membutuhkan lembaga bantuan psikologi-pedagogi
Membutuhkan guru sebagai sahabat
Membutuhkan perlindungan hukum
Membutuhkan tenaga pendampingan
dan pendidikan (suatu solusi)
Harapan orang tua sebagai konsumen bidang kesehatan
Bila anak lahir membawa kekhususan
Orang tua anak berkekhususan biasanya tidak dapat menceritakan kesulitannya pada
sembarang orang tua lain, sebab masalah kekhususan memang kurang dikenal secara umum.
Apa yang sering dialami, justru orang tua menerima kritikan dari keluarga lain sebagai orang
tua yang tidak mampu mendidik anaknya. Kritikan ini akan jauh lebih banyak diterima oleh
orang tua dari anak penyandang masalah perilaku dan emosi. Orang tua anak ADHD
misalnya, mendapatkan kritikan bahwa anaknya tidak pernah diajar berperilaku yang benar,
sopan santun, dan menahan emosinya. Padahal betapa sulitnya orang tua ini menghadapi
anaknya yang memang mengalami gangguan pada pusat pengatur perilaku (
function
lahir yang akan disandangnya seumur hidupnya. Orang tua sering putus asa sendiri
menghadapinya. Sejak bayi kecil, si anak sudah sering menunjukkan emosi yang memusuhi
orang tuanya, seperti mengamuk, membuang mainan, dan merusak apa saja bila ia marah.
Situasi seperti ini saja sudah membuat hubungan ibu dan anak menjadi kurang mesra,
terjadilah gangguan relasi ibu anak. Padahal ibu mempunyai tugas sebagai pemegang peranan
terbesar dalam perkembangan anak. Orang tua jika tak memahami masalah yang disandang
anak, mucullah konflik tajam dengannya. Begitu pula anggota keluarga yang lain, akan
memusuhi saudaranya yang ADHD, atau selalu berkelahi. Banyak dari anak ADHD
akhirnya putus hubungan dengan ayahnya karena sering dipukuli.
Saat anak ini mulai besar, lingkungan luar, baik tetangga maupun famili juga
mengambil jarak, yang menyebabkan keluarga ini menjadi terisolasi. Jika ada acara-acara
bersama, atau ke restoran, dan tempat keramaian, anak ini dianggap pengganggu, yang sering
menyebabkan keluarga ini tidak lagi berani membawa anaknya ke tempat keramaian. Padahal
si anak memerlukan juga lingkungan sosial dalam fase-fase tumbuh kembangnya. Si Ibu
sering bertanya-tanya: “
yang taqwa dan tawakal akan berkata bahwa bagaimanapun ia akan tetap tabah dalam
menghadapi ujian ini, pasti ada hikmahnya. Tetapi tidak semua Ibu bisa begini. Lebih banyak
ibu-ibu yang stress.
Pada keluarga yang mempunyai anak mengalami keterlambatan perkembangan seperti
misalnya anak-anak yang bersymptom perilaku autisme (seperti misalnya kurang mampu
bersosialisasi, sulit menerima nasihat, rigid, dan kaku) sering mendapatkan kritikan bahwa
anaknya terlalu dimanja, apa-apa diperbolehkan, kurang dilatih, dan sebagainya.
Anak yang mengalami cacat kasat mata seperti penyandang disleksia seringkali
dituduh sebagai anak yang malas, tidak punya motivasi belajar, dan tidak disiplin. Akibatnya
karena ia dianggap mengecewakan, sementara dirinya sendiri tidak mengerti mengapa sangat
sulit mencapai prestasi, ia pun mengalami kefrustrasian yang tidak jarang justru
memunculkan masalah perilaku.
Demikianlah lingkaran setan yang dihadapi anak yang lahir dengan kekhususan. Tapi
kesulitan ini bukan hanya sampai disini saja. Saat mana orang tua sadar bahwa ia harus
meminta pertolongan, kenyataannya justru banyak mulut harimau mengancam di hadapannya.
Mulut harimau itu siap menerkamnya lalu mengoyak-ngoyak pemahamannya tentang
kekhususan anak dengan memberinya informasi yang menyesatkan, kemudian merampas apa
saja yang masih tersisa. Orang tua seringkali mendapatkan informasi bahwa gangguan yang
ada pada anak dapat diobati, dapat dipulihkan, dapat dinormalkan, dan bahkan tak sungkansungkan
mengatakan asalkan rajin dan telaten maka dapat bersekolah menjadi anak yang luar
biasa cerdas. Siapa orang tua yang tak tergiur dengan info ini? Apapun, demi anak, akan
dilakukannya. Dana keluarga, sumbangan saudara, bahkan menjual aset tanah dan rumah
sekalipun akan digunakan. Tidak jarang memunculkan percekcokan dalam keluarga yang
menyulut rusaknya ikatan perkawinan.
Inilah dunia kekhususan – yang seringkali orang tua anggota baru suatu
Support Groups
excecutive) di susunan syaraf pusat (otak). Gangguan itu juga adalah gangguan bawaan sejakApa salahku melahirkan anak yang begitu sulit mengasuhnya?” IbuParentsdisambut oleh anggota lama dengan sambutan: Welcome onboard!
Tugas pengasuhan yang berat dan penuh dilema
Pada suatu hari saya mendapat email dari seorang keponakan yang menceritakan
perihal anaknya:
“Si Salman, anak pertama Nanang kelas satu SD, kemarin dapet Piala Anak
Berbakat, dan satu pialanya lagi Piala Rajin Sekolah. Tapi orang tua murid yang lain pada
protes, karena di keseharian si Salman bandelnya ampun ampun. Jadi orang tua murid yang
lain tidak bisa terima dengan gelar yang didapet oleh Salman.Karena tidak hanya di rumah,
di pengajian pun sama, guru ngajinya sampai minta ampun. Tapi kalau ditanya pelajaran di
sekolah maupun di pengajian, ya bisa. Prestasi di sekolah, ya bagus. Pelajaran yang diterima
gurunya diserap dengan baik. Di pengajian, beberapa surah pendek dia bisa hapal. Tetapi ya
itu tadi, bandelnya minta ampun. Kalau bibirnya pecah, atau kukunya lepas, seperti engga
ada rasanya. Sudah ke rumah sakit, bagian tumbuh kembang anak, dirujuk ke psikiater,
katanya ADHD. Nanang mau cari opini lain, karena anak itu pinter sekali, bisa berprestasi
bagus, konsentrasinya bagus, engga suka marah, masak ADHD? Lagipula yang cocok
dengan kriteria ADHD cuma 30 %. Mana obatnya mahal sekali.”
Surat ini menunjukkan sebuah dilema dari orang tua anak kekhususan. Kebetulan
kekhususannya adalah seorang anak yang luar biasa cerdas. Dengan kata lain ia anak cerdas
istimewa (
banyak maunya, dengan gerak yang luar biasa cepat. Jelas lingkungannya akan mengalami
kesulitan beradaptasi dengan model anak yang berbeda dalam kapasitas geraknya ini.
Dorongan lingkungan menyebabkan orang tua menanyakan pada dokter yang merawatnya,
yang sudah pasti ia akan mendapatkan hadiah sebagai anak hiperaktif, ADHD (
Deficit Hyperactivity Disorder
dalam ruang klinik seorang dokter, tanpa ada observasi jangka panjang dan wawancara
mendalam, maupun mengisi ceklist perilaku.
Menjatuhkan vonis diagnosa seperti ini hanya membuat dilemma bagi orang tua.
Apalagi, karakteristik tumbuh kembang, perilaku, dan kepribadian seorang anak cerdas
istimewa memang tidak dikenal di bidang ilmu kedokteran. Apa yang selalu dipahami secara
luas tentang anak cerdas istimewa adalah anak yang cerdas dengan prestasi baik tanpa ada
gifted child) . Tetapi anak ini selalu on the go, dengan tingkat aktivitas tinggi,Attention). Suatu diagnosa yang ditegakkan dalam waktu singkat di
embel-embel
masalah perilaku yang menyusahkan lingkungan. 2
Diagnosa adalah suatu kumpulan gejala yang harus mampu membedakan antara
diagnosa satu dengan diagnosa lainnya. Jika kumpulan gejala yang ada pada satu anak itu
2
lihat buku
dan mengasuhnya
Tentang bagaimana karakteristik perilaku, kepribadian, serta tumbuh kembang seorang anak cerdas istimewaAnakku Terlambat Bicara, Anak berbakat yang mengalami disinkronitas perkembangan, memahami(Julia Maria van Tiel, Prenada Media 2007, 2008).
ternyata cocok juga dengan diagnosa lainnya , jelas ada yang salah. Salah dalam
menginterpretasikan gejala menjadi kriterianya (dalam hal ini salah si profesional yang
menegakkan diagnosa), atau salah kriteria ataupun protokol yang sudah dibuat oleh para
pakarnya. Tinggal pilih mana yang bisa kita amati, salah si profesionalnya atau salah
protokol/kriterianya sebagai alat ukurnya.
Anak cerdas istimewa di Indonesia memang masuk ke dalam kelompok anak
berkekhususan (dalam bidang pendidikan), tetapi yang dimasukkan adalah karena mempunyai
kekhususan pada tingkat inteligensi yang di atas rata-rata. Pola alamiah tumbuh kembang dan
karakteristik perilaku serta kepribadiannya tidak pernah dibicarakan di bidang kedokteran,
sekalipun di bidang psikologi dan pendidikan anak
bagaimana pola tumbuh kembang, karakteristik perilaku, dan kepribadian kelompok anak
gifted, sudah banyak dibicarakan
gifted
merugikan perkembangan si anak itu sendiri. Apalagi jika justru ada “penjegalan” informasi
dengan sengaja:
si anak tidak diberi terapi, karena anak mempunyai perilaku yang jelek.”
ini jelas sudah tidak memberi kepercayaan pada orang tua, agar orang tua dapat
mengendalikan perilaku anak dengan strategi yang tepat sesuai dengan karakteristik anak
(perilaku anak
perkembangan - memang tidak membutuhkan tindakan terapi - apalagi terapi
medikamentosa - tetapi strategi pengasuhan yang tepat
lingkungan memang dituntut untuk memberikan toleransi dan beradaptasi dengan pola
tumbuh kembang anak cerdas istimewa yang polanya memang luar biasa itu. Jika lingkungan
tidak bisa beradaptasi, jelas anak akan dianggap sebagai anak yang punya masalah di hadapan
semua orang. Lingkunganlah yang harus merubah diri, agar anak dapat hidup di lingkungan
yang aman. Dengan lingkungan yang dirasa aman, anak akan tumbuh sebagai anak yang sehat
secara bathiniah. Bukan sebaliknya, anak diberi obat-obatan, untuk memenuhi permintaan
lingkungan yang merasa terganggu. Dimana hak anak berkekhususan agar ia dapat hidup?
Tetapi bagaimana cara yang efektif agar lingkungan dapat beradaptasi? Jawabnya
adalah: informasikan yang benar tentang pola tumbuh kembang, perilaku dan kepribadian
seorang anak
hanya dengan maksud mendorong orang tua agar membawa anaknya ke tempat terapi.
Tentunya orang tua yang menghadapi kesulitan ini akan penuh dengan kesadaran bisa diajak
bekerjasama dengan berbagai pihak profesi, karena ia memang membutuhkannya. Lagipula
sudah diketahui bahwa ada banyak masalah yang bisa menyertai perkembangan seorang anak
itu. Tidak adanya informasi dari bidang psikologi ke bidang kedokteran ini justru“Orang tua jangan diberi tahu bahwa si anak adalah anak gifted sebab nantiKecurigaan sepertigifted yang “jelek” itu – tersering akan dianggap jelek, padahal sedang tahap3). Dalam kasus ini, orang tua dangifted. Sebaliknya informasi yang benar ini jangan diupayakan untuk “dijegal”
gifted
masalah lain)
, yang kemudian ia disebut sebagai anak gifted dengan komorbiditas (gifted plus4. Anak-anak ini juga membutuhkan bantuan terapi tertentu. Kelompok anak
3
karakteristik kepribadian anak gifted, dapat dibaca dalam berbagai buku-buku yang membahas perkembangan
sosial emosional anak-anak gifted.
Masa kecil anak-anak gifted yang mempunyai kemauan keras, sulit diatur, keras kepala, merupakan
4
Kieboom, T (2007):
Montgomery, D (2009):
Mooij, T., Hoogeveen, L., Driessen, G., van Hell, J., Verhoeven, L. (2007):
hoogbegaafde leerlingen
Neihart,M; Reis, SM; Robinson, NM; Moon,SM (2005):
what do we know?
Webb,JT; Armend,ER; Webb,NE;Goerss,J; Beljan,P; Olenchak,FR (2005
Gifted Children and Adults
Welling, F (2005):
Uitgeverij, Utrecht.
Lihat buku-buku:Als je kind (g)een Einstein is, Uitgeverij Lanno,NV, Tielt.Able, gifted, and talented underachiever, Wiley-Blackwel, West Sussex.Succescondities voor onderwijs aan, Eindverslag van drie deelonderzoeken, Radboud Universiteit NijmegenThe social emosional development of gifted children,, Prufrock Press,Inc.Texas.): Misdiagnois and Dual Diagnosis of, Great Potential Pers,inc., Scottsdale, Arizona.Kinderen en slim zijn, waarom slim maar knap lastig zijn, LifeTime, Kosmos-Z&K
seperti ini membutuhkan penanganan ke dua arah, faktor kuat dan faktor lemahnya. Kuncinya
dimana? Pada orang tua dan guru. Orang tua dan guru perlu dibekali dengan strategi
pengasuhan dan pendidikan yang sesuai dengan karakteristik anak. Masalah anak
satu contoh, masih banyak contoh-contoh lain bila kita ingin mengamatinya.
gifted baru
Perlu memahami tumbuh kembang anak
banyak sekali diajukan banyak orang tua di berbagai
yang mendapatkan anaknya yang dirasa mempunyai perilaku, emosi, perkembangan bicara
dan bahasa, perkembangan sosial, atau perkembangan motorik, yang berbeda. Tetapi
mengapa para orang tua harus bertanya ke kiri dan ke kanan akan perkembangan anaknya?
Seharusnya tidak, sebab di semua negara (maju) di dunia, tumbuh kembang anak sudah
terpantau dengan baik oleh dokter tumbuh kembang, tersistem dalam sistem kesehatan
nasional. Yang disayangkan adalah di Indonesia, pemantauan tumbuh kembang anak baru
mencakup perkembangan berat badan – tinggi badan, kesehatan fisik, dan vaksinasi.
Pemantauan perkembangan yang lain pada seorang anak belum dilaksanakan, seperti
perkembangan motorik (kasar dan halus), perkembangan bicara dan bahasa, perkembangan
kepribadian, adapatasi, sosial, kognitif, dan sebagainya. Jadi tidak heran bila orang tua dalam
upaya melihat perkembangan anak seringkali berselancar dalam dunia maya dan menemukan
pola perkembangan anak bangsa lain yang kemudian dicocok-cocokkan dengan
perkembangan anaknya. Padahal pola tumbuh kembang suatu ras akan berbeda dari satu ras
ke ras yang lain; dari satu iklim ke iklim yang lain; dari satu pola budaya makan ke pola
budaya makan yang lain. Suatu dilema orang tua yang ingin mengetahui tumbuh kembang
anak-anaknya. Ada baiknya pola tumbuh kembang anak Indonesia dapat diakses dengan
mudah oleh orang tua, agar orang tua mempunyai pegangan.
Di negara maju, pemantauan tumbuh kembang anak menjadi semakin detil, adalah
karena adanya tuntutan tentang
tumbuh kembang anak harus sudah dipantau baik-baik, agar dapat diketahui prasyarat dan
syarat (fisik, psikologis, sosial, motorik, bicara bahasa, dan kognitif) apa saja yang bisa
menghambat proses pembelajarannya kelak. Baik pembelajaran di usia dini, sekolah dasar,
maupun sekolah lanjutan. Apabila saat anak berusia sangat dini misalnya usia batita diketahui
ada prasyarat proses pembelajaran yang terganggu (fisik, psikologis, sosial, motorik, bicara
dan bahasa, serta kognitif) maka anak segera mendapatkan bendera merah. Ia dikelompokkan
sebagai anak beresiko (resiko perkembangan dan resiko proses pembelajaran). Namun dalam
praktiknya di negara kita belum ada, yang ada baru konsep-konsep yang tidak operasional,
dan berbeda dari satu lembaga ke lembaga lain. Sungguh ironis memang. Padahal penerapan
pendidikan yang menghormati keragaman murid harus melihat keragaman tumbuh kembang
anak
perkembangan normal? Bagaimana kita akan tahu bahwa anak kita menyimpang dari
Mom and dad... mau tanya, anak saya normal tidak ya?” Pertanyaan seperti inimailinglist Indonesia oleh para orang tuaschool readiness (persiapan sekolah). Sejak dini bagaimana5. Bagaimana kita tahu anak kita adalah anak berkekhususan jika tidak ada patokan
5
Unesco (2001): Understanding and responding to children’s needs in inclusive classroom.
Lihat penjelasan dari Unesco tentang Inclusive Education :
http://unesdoc.unesco.org/images/0012/001243/124394e.pdf
Unesco (2009): Policy guidelines on Inclusion in Education .
http://unesdoc.unesco.org/images/0017/001778/177849e.pdf
perkembangan normal jika tidak ada patokannya? Bisa jadi orang tua kelak hanya mengkirakira,
dan akibatnya adalah anak normal disangka tidak normal, dan punya anak tidak normal
orang tua tidak menyadari.
Artinya disini, sukses tidaknya pendidikan anak berkekhususan seperti misalnya
sekolah inklusi yang tengah digalakkan di Indonesia juga tergantung dari bagaimana
berkembangnya sistem pematauan tumbuh kembang anak Indonesia. Dengan kata lain dalam
hal ini maju tidaknya ilmu kedokteran anak yang mengkhususkan diri pada pemantauan
tumbuh kembang anak akan berkaitan erat dengan maju tidaknya sistem pendidikan di
Indonesia.
Perlu memahami pola alamiah tumbuh kembang anak
berkekhususan
“Setiap anak adalah unik”.
yang lahir bukanlah anak yang sempurna (bagai kertas putih siap ditulisi) sebagaimana
filosofi terdahulu, tetapi anak yang membawa keunikannya masing-masing. Keunikan ini
dimulai dengan keunikan
berujud dalam
dipengaruhi oleh lingkungannya (mengasuhnya, mendidiknya, menstimulasinya, dan
memberinya nutrisi).
Artinya disini kita akan berhadapan dengan faktor yang disebut sebagai
Kata-kata ini adalah filosofi masa kini, bahwa anakgenothypnya yang akan menjadi blue print perkembangan danphenothypnya. Namun bagaimana prestasi perkembangan seorang anak juganature
biologis seorang anak dan juga faktor lingkungan yang biasa disebut sebagai
mengasuh anak-anak kita, dua kata inilah yang harus selalu kita ingat, yaitu
nurture
mempunyai tugas mengasuh, mendidik, dan membesarkan anak, mempunyai konsekuensi
akan berhadapan dengan kelompok-kelompok yang hanya berpegang pada masalah nurture
saja, tanpa melihat lagi bagaimana kondisi nature nya. Dalam hal inilah kita harus membekali
diri dengan pengetahuan yang dalam dan luas tentang anak-anak berkekhususan kita, supaya
kita tidak tergeret masuk ke dalam tawaran-tawaran yang sebetulnya
nurture. Dalamnature +. Namun bila kita berhadapan dengan dua hal ini, kita sebagai orang tua yangmisleading
(menyesatkan) dan
pada nurture saja. Menyesatkan dan menipu, karena tidak sesuai dengan temuan-temuan
ilmiah yang terus semakin berkembang
Orang tua anak berkekhususan mau tidak mau harus mempelajari bagaimana
karakteristik anaknya. Semuanya harus dipelajari secara detil karena orang tua harus
melayaninya, mengasuhnya, melakukan intervensi, dan mendidiknya dengan cara-cara yang
sesuai dengan karakteristiknya itu. Untuk ini semua, orang tua membutuhkan diagnosa yang
tepat.
fraudulence (menipu)6 dengan tawaran-tawarannya yang hanya berpegang7, demi lakunya tawaran komersial itu.
6
penipuan dalam pelayanan kesehatan seperti misalnya URL di bawah ini:
Di banyak negara saat ini sudah dibangun lembaga informasi yang menjelaskan tentang bentuk-bentuk
http://www.ncahf.org/
http://www.kwakzalverij.nl/
7
keturunan, tetapi karena stimulasi dan nutrisi. Anak jika tidak distimulasi dan tidak diberi nutrisi yang benar
akan menyebabkan sel-sel otaknya mati. Akibatnya ada keturunan dari kubu ini yang menjelaskan bahwa
masalah kurang stimulasi dan nutrisi yang tepat dapat menyebabkan gangguan belajar. Informasi yang
Selama ini selalu saja terjadi perdebatan tentang inteligensi. Satu kubu berkata bahwa inteligensi bukan karena
misleading
dengan kebutuhan khusus).
seperti ini sudah menggoncangkan hati para orang tua yang takut anaknya menjadi ABK (anak
Bagaimana mendapatkan diagnosa yang tepat, agaknya bukanlah hal yang mudah. Hal
ini bukan hanya disebabkan karena pola tumbuh kembang, karakteristik lainnya belum
banyak dipahami, namun juga ilmu tentang anak-anak berkebutuhan khusus adalah masih
sangat muda. Pihak-pihak yang berkecimpung dalam dunia anak berkebutuhan khusus
dituntut harus terus mengikuti perkembangan dunia ilmiah yang terus menggali dan
melakukan penelitian untuk ini. Ironis pula, pengetahuan tentang anak berkekhususan
berkembang sangat cepat, ilmunya cepat berubah, dan terus diperbaharui.
Tidak heran jika kita banyak mendapatkan laporan ada anak mendapatkan lima label
yang berbeda dari lima
yang berganti-ganti dari waktu ke waktu. Adanya
muncul anggapan bahwa, demikianlah adanya bahwa seorang anak berkekhususan akan selalu
bergonta-ganti diagnosa dari waktu ke waktu. Suatu pendapat yang sudah membenarkan apa
yang sebenarnya salah.
Namun apa yang terjadi pada orang tua dengan situasi seperti ini? Orang tua
kebingungan, pola tumbuh kembang alamiah anak yang macam apa yang harus menjadi
pegangannya? Dan akibat diagnosa yang berganti-ganti anakpun tidak mendapatkan
penanganan yang konsisten. Hal ini ujungnya adalah merugikan anak itu sendiri. Atau,
muncul suatu trend dimana satu model terapi digunakan untuk segala macam diagnosa, yang
justru bertentangan dengan filosofi bahwa setiap anak adalah unik.
Hingga kini juga masih ada anggapan, bahwa sekalipun anak itu cerdas (sekalipun
cerdas luar biasa) namun jika mengalami masalah dalam perkembangan sosialnya, maka anak
ini disebut sebagai anak dari kelompok autisme Asperger, bukan anak
kelompok yang mempercayai anggapan ini, bahwa seorang anak autisme yang mempunyai IQ
yang tinggi disebut sebagai
permasalahan kedua kelompok itu (
dalam memilih strategi pendidikannya
keterbatasan pada kemampuan logika analisa dan berpikir kreatif dalam pemecahan masalah.
Sedang seorang anak
berpikir kreatif dalam pemecahan masalah. Jelas kedua karakteristik itu membutuhkan
strategi pendidikan yang berbeda. Pada autisme Asperger membutuhkan bimbingan tahap
pertahap (sekuensial dan prosedural), sedangkan pada anak
pengajaran yang mendahulukan pemecahan masalah (simultan dan sirkuler)
Apabila masalah ini tidak diperhatikan, maka pendidikan yang sebenarnya dapat
memanfaatkan faktor kuat anak, jadi terabaikan. Padahal sementara itu
karunia Tuhan yang menjadi hak yang harus kita hormati. Hak itu tertuang dalam filosofi
diagnotician yang berbeda-beda. Atau si anak mendapatkan diagnosakekisruhan situasi seperti ini justru kinigifted. Sebab, menurutAsperger Syndrome. Maka jika kita tidak lagi mendalamiAsperger Syndrome dan Gifted Child8), kita akan keliru9. Seorang anak Asperger Syndrome mempunyaigifted justru mempunyai kekuatan dalam kemampuan logika analisa dangifted dibutuhkan strategi10.gifteness nya adalah
8
keterlambatan bicara, yang kelak menjadi
selalu tertinggal dalam kemampuan bahasa ekspresif yang menyebabkan ia pun mengalami ketertinggalan dalam
perkembangan bersosialisasi. Sekalipun demikian, ia akan mampu mengejar ketertinggalannya dengan cepat,
dan masalah ketertinggalan bersosialisasi juga akan teratasi. Artinya masalah bersosialisasinya ini merupakan
masalah sekunder, berbeda dengan kelompok autisme (sekalipun adalah kelompok autisme yang berfungsi tinggi
sebagaimana Asperger Syndrome) dimana masalah bersosialisasi yang disandangnya adalah sebagai gangguan
primer. Hal ini sangat penting diperhatikan oleh para orang tua.
Anak gifted yang sering terjebak dalam diagnosa Asperger ini adalah kelompok anak gifted yang mengalamigifted visual spatial learner. Dalam masa-masa perkembangannya, ia
9
buku:
Webb,JT; Armend,ER; Webb,NE;Goerss,J; Beljan,P; Olenchak,FR (2005
Gifted Children and Adults
Untuk mempelajari perbedaan antara Asperger Syndrome dan Gifted Children dapat di pelajari misalnya dalam): Misdiagnois and Dual Diagnosis of, Great Potential Pers,inc., Scottsdale, Arizona.
10
dalam buku:
Sousa, DA (2003):
Penjelasan tentang bagaimana model pendekatan pengajaran kedua bentuk kekhususan ini dapat dipelajariHow the gifted brain learns, Corwin Press Inc. California.
pendidikan masa kini. Filosofi yang telah dikumandangkan oleh negara-negara di dunia
anggota Unesco dalam bentuk Deklarasi Salamanca 1994 adalah, menghormati hak azazi
anak untuk mendapatkan pendidikan yang sebaik-baiknya sesuai dengan keunikan yang
dimilikinya.
Membutuhkan informasi dan lembaga intervensi yang
EBP
Apakah EBP itu? EBP singkatan dari
harus dipegang oleh semua tenaga praktisi maupun profesi dalam memberikan layanan
kepada masyarakat
masyarakat itu harus ada dukungan bukti-bukti kebenaran secara ilmiah. Hal ini dimaksudkan
untuk melindungi masyarakat dari bahaya terapi, ketidak efektifan, maupun ketidak
efisiensian pelayanan tersebut.
Setiap profesi, pada waktu lulus dari pendidikannya dan akan bekerja menjalankan
tugasnya, pasti akan disumpah bahwa ia akan menjalankan tugas dengan menjunjung tinggi
keluhuran ilmu pengetahuan. Keluhuran ilmu pengetahuan artinya bahwa apa yang disebut
ilmu pengetahuan mengandung suatu metodologi pembuktian kebenaran. Dengan begitu,
berbagai informasi, layanan intervensi, pengobatan, maupun pendidikan, memerlukan
dukungan metodologi pembuktian kebenaran. Hasil-hasil pembuktian melalui berbagai
penelitian ilmiah itu pun masih harus meliwati sebuah kelompok bijak bestari (
yang kemudian secara bertahap akan meliwati kesepakatan asosiasi profesinya. Setelah
disepakati, didukung dengan berbagai peraturan dan protokol, barulah berbagai informasi,
layanan pemeriksaan, intervensi dan pengobatan, bisa diberikan kepada masyarakat. Dengan
kata lain, demi menjaga keamanan masyarakat, informasi yang belum diterima kebenarannya
melalui uji klinik, maupun pembuktian epidemiologis, tidak dibenarkan untuk disebarluaskan.
Kita ambilkan contoh tentang informasi vaksin MMR sebagai penyebab autisme.
Informasi yang belum diuji secara klinik dan epidemiologis, baru dalam bentuk penelitian
pendahuluan, sudah disebarluaskan ke seluruh bagian dunia. Negara seperti Indonesia yang
sistem perlindungan informasinya masih lemah, telah juga menjadi korban isyu yang
menyebabkan rasa takut orang tua untuk memberikan vaksinasi pada anaknya. Kelanjutan
dari isyu ini kemudian muncul berbagai upaya terapi autisme (yang tentu saja
benar secara ilmiah) membersihkan badan/darah anak penyandang autisme dari MMR yang
sudah terlanjur diberikan.
Kekhususan autisme adalah salah satu kekhususan yang paling banyak dikelilingi oleh
bentuk-bentuk yang non-EBP, mulai dari teori penyebab hingga layanan intervensinya. Hal
ini disebabkan karena hingga kini penyebab autisme masih belum dapat diketahui mekanisme
gangguannya. Apa yang dapat diketahui barulah bahwa genetik mempunyai peranan yang
penting
bahwa kans mengalami gangguan autistik akan jauh lebih besar bila dibandingkan dengan
Evidence Based Practice, sebuah aturan yang11. Evidence Based Practice artinya layanan yang diberikan kepadapeer reviewer),fraud – tidak12, hal ini dapat diketahui dari penelitian pada kembar identik yang menunjukkan
11
deteksi, intervensi dan terapi anak berkekhususan adalah:
Mowder, BA; Rubinson, F; Yasik, AE (2009):
Salah satu buku yang sangat baik dan banyak menjelaskan tentang EBP serta berbagai teori, identifikasi,Evidence Based Practice in Infant & Early Childhood
Psychology, John Wiley & Sons, Inc. Canada.
12
Buitelaar, JK; Willemsen-Swinkels, SHN (2000):
European Child & Adolescents Psychiatry, 9:I/85-I/97.
Tentang penyebab autisme yang dipegang oleh kelompok ilmiah dapat dilihat dalam artikel ini:Medication treatment in subject of autism spectrum disorder,
anak kembar non-identik. Walaupun para ahlinya sudah sepakat bahwa genetik mempunyai
peranan penting, namun bagaimana transmisi genetiknya belum dapat diketahui. Begitu pula
dimana lokasi gen marker pembawa sifat autisme pada susunan DNA-RNA dalam kromosom,
hingga saat ini belum dapat diketahui. Sekalipun autis disepakati sebagai gangguan
neurologis, tetapi untuk menjelaskan perilaku autisme secara neurokognitif dan neuroscience
juga masih belum ada yang berhasil mendirikannya. Karena itulah, banyak sekali orang yang
mencoba menjelaskannya melalui pemahaman-pemahaman yang masih wacana. Penyebab
autisme yang non-EBP dalam informasi di pasaran bebas luar biasa banyak, yang akhirnya
menawarkan terapinya yang juga sangat beragam serta non-EBP.
Orang tua adalah kelompok masyarakat awam, mereka bukanlah para ahli dalam
bidang ini, kebetulan saja ia mendapatkan tugas mengasuh anaknya yang berkekhususan. Bisa
kita bayangkan jika kita tidak mempunyai tempat mencari informasi yang EBP. Penanganan
anak-anak berkekhususan hanya akan mendapatkan layanan yang efektivitas, efisensi, dan
keamanannya masih dipertanyakan. Resiko.
Seharusnya semua tenaga profesi dan praktisi, praktek pribadi, maupun rumah sakit
dan klinik di Universitas senantiasa menyediakan informasi dan sarana pelayanan yang EBP.
Karena tenaga yang menjalankan sudah berada di bawah sumpah dan dibatasi oleh kode ethic
profesi. Namun tidak yang kita temui di Indonesia. Sebagai orang tua kita seringkali justru
mendapatkan undangan-undangan dari berbagai lembaga, baik lembaga sosial maupun
lembaga ilmiah yang ternyata di dalamnya banyak berisi informasi yang non-EBP. Begitu
banyaknya praktek yang non-EBP ini menjadikan suasana di negara kita, pada akhirnya yang
menjalankan praktek EBP menjadi “barang aneh” atau “benda asing”. Yang salah
dibenarkan, dan yang benar disalahkan.
Membutuhkan jalur rujukan dan protokol yang jelas
“Shopping dokter”
Tujuannya mencari kejelasan akan diagnosa anaknya. Sebab dari dokter satu ke dokter lain,
dari psikolog satu ke psikolog lain, anaknya mendapatkan stempel berbeda-beda serta anjuran
yang berbeda-beda. Dalam kelompok orang tua ini, pada akhirnya ada beberapa
kemungkinan yang terkembang diantara mereka:
adalah salah satu kegiatan orang tua anak berkekhususan.
tenaga siapapun baik dokter maupun psikolog. Ia menjadi frustrasi dan akhirnya
apatis. Kelompok orang tua ini perlu mendapatkan dukungan agar dapat merangkak
kembali ke permukaan.
Ada orang tua yang bosan dan jemu, akhirnya tidak mau lagi membawa anaknya ke
dokter dan psikolog, tetapi mempelajari dan mendapatkan strategi sendiri. Ia
menjadi mandiri.
Ada orang tua yang bosan dan jemu, akhirnya tidak mau lagi berhubungan dengan
akhirnya mendapatkan apa yang diinginkan. Ia cerdas dan optimis.
Ada orang tua yang tetap mencari kesana kemari, dengan berbagai informasi yang
para orang tua itu saling mendukung dan bersama-sama mencari intervensi, terapi,
maupun pengobatan anak-anaknya melalui berbagai cara baik EBP maupun non-
EBP. Tidak dipisahkan lagi. Dengan diagnosa maupun tidak. Dengan catatan,
bahwa upaya ini adalah perjuangan demi buah hatinya. “Rasanya berdosa jika tidak
mengupayakannya” demikian perasaan para orang tua ini. Banyak orang tua yang
sudah masuk kelompok seperti ini juga sungkan untuk keluar lagi, karena sudah
sehati dan sepakat saling mendukung apapun yang terjadi, kebersamaan dalam
persahabatan. Kelompok orang tua ini tetap membutuhkan bantuan informasi EBP.
Adanya jalur rujukan tentunya jika kita sudah mempunyai protokol yang jelas tentang
anak-anak berkekbutuhan khusus ini. Siapa yang berhak melakukan diagnosa, dan bentuk apa
diagnosa itu. Advis apa yang dapat diberikan pada si anak. Bagaimana jika salah satu profesi
dalam jalur rujukan itu memberikan penjelasan yang berbeda? Jelas akan menyebabkan jalan
yang harus ditempuh orang tua menjadi lebih panjang. Karena ia harus mencari opini lain.
Yang tersulit bagi orang tua adalah untuk memahami jalur rujukan itu (karena
memang di Indonesia belum ada jalurnya, karena protokolnya juga belum ada). Namun jika
pun ada, orang tua juga kurang memahami mengapa anaknya harus dibawa pergi kemanamana.
Untuk masalah kekhususan yang disebabkan karena cacat fisik primer, seperti buta, tuli,
cacat fisik, atau masalah retardasi mental, tidak banyak membawa masalah dalam
pendeteksian dan pendiagnosisannya. Tetapi bila kekhususan itu sudah ke arah masalah
neurologis dan gangguan perkembangan, maka deteksi dan penegakan diagnosanya sungguh
sangat bermasalah. Hal ini disebabkan gangguan neurologis dan perkembangan akan
menyangkut banyak aspek sehingga membutuhkan banyak keilmuan, dan ilmunya juga masih
terus berkembang.
Untuk menggambarkan betapa repotnya menangani anak kekhususan yang mengalami
gangguan neurologis dan atau gangguan perkembangan, kita ambil contoh, seorang anak yang
mengalami keterlambatan bicara (gangguan perkembangan bicara dan bahasa spesifik atau
dari speech patolog dengan nama lain
nama
saja, ia mempunyai prognosa yang baik, dan kelak akan berkembang mengalami normalisasi
perkembangan. Jumlahnya terbanyak dari semua gangguan bicara dan bahasa.
sekalipun demikian jalur yang harus ditempuh sangat panjang berliku-liku sampai si anak
mendapatkan pelayanan intervensi dan pendidikan yang tepat
Setiap anak yang mengalami keterlambatan bicara memerlukan pemeriksaan
menyeluruh dari seorang dokter tumbuh kembang, sehingga dokter tumbuh kembang dapat
memperkirakan kemana anak harus dirujuk. Sayangnya dokter tumbuh kembang di Indonesia
berjumlah sangat sedikit dan tidak dapat melayani seluruh rakyat Indonesia
angka yang didapatkan dari penelitian-penelitian di berbagai negara menunjukkan angka anak
yang mengalami gangguan bicara dan bahasa luar biasa tinggi. Sekalipun angka itu berbeda
dari satu negara ke negara lain. Hal ini tergantung dari definisi operasional dan alat ukur yang
digunakan.
Ada orang tua yang masuk ke dalam suatu parents support groups tertentu, dimanaSpeech Language Impairment, dari neurolog denganDevelopmental Dysphasia). Gangguan ini merupakan gangguan yang hanya sementara13 Tetapi14.15. Sementara itu
13
Goorhuis,SM & Schaerlaekens, AM (2008):
Nederlandsspreekende kinderen,
Lihat dalam buku:Handboek taalontwikkelling, taalpathologie en taaltherapie bijDe Tijdstroom Uitgeverij, Utrecht.
14
Goorhuis,SM & Schaerlaekens, AM (2008):
Nederlandsspreekende kinderen,
Lihat dalam buku:Handboek taalontwikkelling, taalpathologie en taaltherapie bijDe Tijdstroom Uitgeverij, Utrecht.
15
anak di Belanda, Negera Belanda membangun layanan masyarakat (
puskesmas di Indonesia dengan tenaga dokter yang berlatar belakang pendidikan dokter ilmu kesehatan
masyarakat yang mengkhususkan diri pada tumbuh kembang anak. Dengan demikian dokter tumbuh kembang
ini bukanlah
berusia 0 – 4 tahun. Dokter tumbuh kembang disini disebut CB artsen (Consultatiebureau artsen) yang
bertugas selain memantau tumbuh kembang dan juga melakukan deteksi dini masalah tumbuh kembang anak,
untuk kemudian melakukan rujukan ke layanan kesehatan yang lebih spesialistik atau lebih tinggi.
Untuk mengatasi masalah ketenagaan bagi pemeriksaan dan pemantauan tumbuh kembang setiap bayi dancommunity health center) setingkatpeditrician tetapi dokter tumbuh kembang yang community based. Ia akan melayani anak-anak
Laporan dari Belanda tahun 2005 tentang anak-anak yang mengalami gangguan
perkembangan bicara bahasa itu (semua bentuk) saat usia masuk sekolah dasar diketahui
berjumlah 37-56 persen, demikian yang dilaporkan oleh TNO-rapport:
leven.adlibsoft.com/docs/spraaktaalont.pdf
mana gangguan perkembangan bicara dan bahasa yang spesifik (gangguan bicara dan bahasa
ekspresif) maupun dan yang non spesifik – serta apa saja penyebabnya. Tetapi dapat kita
bayangkan jika masalah gangguan perkembangan bicara dan bahasa ini memang luar biasa
banyak. Setengah dari populasi anak usia balita sudah dipastikan mempunyai masalah dengan
gangguan perkembangan bicara dan bahasa dengan berbagai sebab. Dan tidak heran pula jika
rumah sakit bagian anak kini selalu kedatangan pasien anak dengan keluhan belum bisa
bicara. Orang tua yang panik semakin hari juga semakin banyak. Terlihat dari banyaknya
orang tua yang sudah panik saat melihat anaknya baru satu tahun sudah tanya kiri kanan,
anakku terlambat bicara atau tidak, perlu terapi apa?
Dari dokter tumbuh kembang, seorang anak yang mendapatkan
http://tno-kwaliteitvan-Tetapi dalam laporan itu tidak diperinci lagisuspect
(kemungkinan/dicurigai) bergangguan bicara bahasa spesifik akan dirujuk ke dokter THT atau
ke audiolog memeriksakan pendengarannya. Bila didapatkan bahwa si anak tidak mempunyai
gangguan dalam telinganya, maka dokter audiologi harus menentukan apakah si anak
mengalami keterlambatan bicara atau karena adanya gangguan kognitif? Audilog
membutuhkan bantuan pemeriksaan perkembangan inteligensi dari seorang tenaga psikolog.
Bila dalam kemampuan performansi (IQ performansi) menunjukkan skala yang baik, maka
barulah dokter audiologi dapat menentukan bahwa si anak hanya bergangguan dalam
pemrosesan informasi, telinganya sendiri baik, dan kemampuan penerimaannya juga baik. Ia
sesuai dengan gejala-gejala seorang anak gangguan bicara dan bahasa spesifik.
Dari dokter audiologi anak harus di kirim kembali ke dokter anak yang telah
mengirimnya. Namun dokter anak perlu mengirim kembali ke neurolog untuk melihat
apakah ada gangguan ikutan lainnya. Sebab anak-anak yang mengalami gangguan
perkembangan bicara dan bahasa ekspresif sekalipun, bisa jadi ia akan juga diikuti oleh
gangguan neurologis sebagai gangguan ikutan lainnya. Setengah dari anak-anak ini
didapatkan mengalami komorbiditas atau diikuti dengan gangguan lain
lain terbanyak adalah gangguan motorik halus dan motorik kasar yang tertinggal, dan
gangguan konsentrasi
merupakan masalah sekunder sebagai akibat dari masalah gangguan bahasa ekspresifnya
(sementara itu reseptifnya baik).
lapangan sungguh menjadi sangat krusial, sebab anak-anak ini kemudian bisa “tertuduh”
sebagai penyandang autis hanya karena mengalami ketertinggalan perkembangan sosial ini.
Padahal gangguannya hanya bersifat sementara, kelak jika masalah ketertinggalan berbahasa
ekspresif ini bisa dilalui dengan baik, ketertinggalan sosial ini dapat dikejarnya dengan cepat.
Gangguan sosialnya merupakan gangguan sekunder, bukan gangguan primer sebagaimana
pada autisme.
Anak-anak yang mengalami ketertinggalan sosial ini juga masih perlu dibantu oleh
tenaga psikolog yang mendalami masalah perkembangan anak. Karena masalah ini dapat
merambat pada perkembangan konsep diri, rasa percaya diri, dan kemampuan meregulasi
16. Gangguan ikutan17. Sementara itu anak-anak ini juga mengalami sosial emosional yang18 Masalah ketertinggalan perkembangan sosial ini di
16
Beesems,MAG (2007):
dibawakan dalam Disable 07 Congress, Turky.
Lihat berbagai bacaan di bawah ini:Developmental Dysphasia, Amsterdam Developmental Dysphasia Foundation,http://www.dysphasia.org/turkije.pdf
17
Goorhuis,SM & Schaerlaekens, AM (2008): Handboek taalontwikkelling, taalpathologie en taaltherapie bij
Nederlandsspreekende kinderen, De Tijdstroom Uitgeverij, Utrecht.
Lihat dalam buku:
18
De Jong, J (2005): Dysfatische ontwikkeling, VHZ tijdschrift.
Lihat artikel di bawah ini:
http://home.medewerker.uva.nl/j.dejong1/bestanden/2005-2-artikel1.pdf
masalah sosial yang harus dihadapinya (seperti misalnya menghadapi pelecehan oleh temantemannya).
Rasa percaya diri yang jatuh, menyebabkannya ia akan menarik diri. Masalah
jatuhnya menjadi anak yang menarik diri adalah masalah yang selalu terjadi pada anak yang
terlambat bicara yang kurang dibantu dalam perkembangan sosialnya. Dalam hal ini orang
tua diberi pelatihan oleh seorang tenaga psikolog untuk bagaimana menghadapinya dan
mengasuh anaknya. Bila hal ini tidak dicegah dengan strategi pengasuhan yang tepat, si anak
akan jatuh lebih dalam lagi, yang akan menyebabkannya sulit merangkak kembali ke
permukaan. Penampilan sosial anak kemudian menjadi lebih mirip lagi kepada penampilan
autisme, seperti rasa takut dengan orang lain, tidak berani berdiri dimuka kelas, tidak berani
bicara, tidak berani ke tempat keramaian dan seterusnya
sebab ia benar-benar mirip dengan penampilan seorang anak autisme.
Guna mengatasi kekrusialan ini maka si anak perlu dilakukan pemeriksaan psikiatri ke
psikiater. Apakah benar ia penyandang autisme?
Dalam hal ini orang tua juga perlu tetap selalu mendapatkan informasi tentang berbagai
gejala yang ada dan artinya apa. Seorang anak bergangguan autisme adalah seorang anak
yang antara lain juga mengalami gangguan komunikasi dan bahasa non-verbal. Kemampuan
non-verbal adalah kemampuan membaca mimik orang, membaca jalan pikiran orang lain,
membaca bahasa tubuh, memahami kiasan, memahami canda, memahami emosi orang lain,
dan memahami kedalaman pesan dari intonasi suara/ucapan orang lain. Keterbatasan
kemampuan ini akan menyebabkan seorang anak mengalami kesulitan membaca pesan-pesan
sosial, keterbatasan kemampuan dimensi (pandang ruang) dan kreativitas, kesulitan
memahami sebab-akibat, dan kesulitan dalam kemampuan pemecahan masalah. Ia melihat
dunia ini secara harafiah dan bagai potongan-potongan fragmen yang tidak ada kaitannya
Karena itu, pada anak-anak yang mempunyai gejala perilaku mirip dengan autisme itu, bila
mempunyai kemampuan pemecahan masalah perlu dikeluarkan dari kelompok autisme,
sekalipun kelompok itu adalah autisme Asperger. Karena tidak sesuai dengan karakteristik
perkembangan kognitifnya. Ia perlu dikeluarkan demi menata strategi pembelajaran
baginya
Apabila orang tua meragukan diagnosa yang diberikan oleh psikiater (karena dalam hal
ini psikiater hanya melihat dari sudut gangguan perilaku), maka orang tua dapat menghubungi
dokter anak kembali, dan meminta rujukan kepada seorang tenaga psikologi perkembangan
atau psikologi klinik yang memang mempelajari perkembangan kognitif seorang anak
berkekhususan. Psikolog dapat melihat bagaimana perkembangan kognitif anak dengan
melihat berbagai subtest profil IQ yang diraih anak. Sekalipun terdapat deskrepansi antara
19. Situasinya menjadi lebih krusial,20,21.22.
19
yang mengalami masalah sosial, yang seringkali mendapatkan diagnosa yang salah: Asperger Syndrome.
Dalam malilinglist anakberbakat@yahoogroups.com banyak sekali ditemui anak-anak gifted terlambat bicara
20
Baltussen, M; Clijsen, A (2003):
interne begeleider
Lihat perkembangan kemampuan dasar dan inteligensi autisme dalam buku:Leerling met autisme in de klas, een praktische gids voor leerkrachten en, Landelijk Netwerk Autism, ’s-Hertogenbosch.
21
kemampuan bahasa nonverbal yang baik, ia akan menjadi anak yang mempunyai kemampuan pandag ruang
yang juga baik. Kemampuan pandang ruang yang baik ini akan menjadikannya sebagai anak yang mempunyai
kemampuan logika analisa yang juga baik. Untuk memahaminya lebih lanjut lihat dalam buku:
Greenspan,SI & Salom, J (1995):
Massachusetts.
Atau lihat dalam buku lain yang menjelaskan juga bahwa anak-anak gangguan bicara dan bahasa spesifik ini
mempunyai visual spatial giftedness dalam buku:
De Groet, R & Paagman, C (2003):
Theorie en praktijk rond beeldddenkers: over opvoeden, begeleiden en hun specifieke taalproblemen
Uitgeverij Agiel, Utrecht.
Apabila anak-anak terlambat bicara ini mempunyai kemampuan bahasa reseptif yang baik, dan mempunyaiThe Challanging Child, Adisson-Wesey Publishing Company,Denkbeelden over Beelddenken, een beeld zegt meer dan duizen woorden,,
22
Klin, A; Volkmar,FR & Sparrow,S (2000): Asperger Syndrom, The Guilford Press, New York.
Lihat dalam buku:
skala verbal ( rendah karena mengalami keterlambatan bicara) dan skala performansinya,
namun bila ternyata anak menunjukkan skala performansi di atas rata-rata terutama dalam
kemampuan pemecahan masalah, maka si anak perlu dikeluarkan dari diagnosa Asperger.
Untuk kemudian perlu pendekatan yang tepat sesuai dengan karaketeristik perkembangan
kepribadiannya. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari jatuhnya anak menjadi anak yang
menarik diri, gangguan sosial emosional yang lebih berat.
Dari sini, tugas orang tua mengantar anaknya melakukan perjalanan menyusuri sistem
rujukan belum selesai. Orang tua masih harus menghubungi seorang tenaga ahli kependidikan
kekhususan yang disebut orthopedagogi (
setumpuk data yang sudah ada. Tenaga orthopedagogi akan kembali melakukan berbagai testes
kemampuan pembelajaran dan membantu guru membuatkan IEP (
Program
Masih ada tenaga lain yang harus dihubungi, yaitu seorang ahli speech patologi, yang
akan memeriksa bagaimana perkembangan anak, dalam kemampuan berbicara dan
berbahasa
gangguan ikutan), maka anak juga perlu mendapatkan bantuan mengembangkan kemampuan
motoriknya. Bila perlu dibantu oleh seorang tenaga atau ahli gerak. Memberikan bantuan
pelatihan motorik ini bukan dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan berbahasanya
tetapi agar ia mempunyai prasyarat yang baik dalam menempuh pembelajaran. Misalnya saja
bagaimana kordinasi tangan kiri dan kanan serta jari-jari, kelenturan dan keluwesan gerakan
tangan dan pergelangan.
Dapatkah kita membayangkan betapa rumitnya sesungguhnya jalan yang harus
ditempuh anak dan orang tua agar si anak dapat menerima pengasuhan dan pendidikan yang
tepat baginya. Contoh di atas adalah contoh bagi ABK yang terlambat bicara karena
perkembangannya sendiri (gangguan bicara dan bahasa ekspresif), yang mana ia mempunyai
prognosa yang baik. Dan lebih sering dianggap dapat membaik dengan sendirinya, karena itu
anak-anak ini sering ditanggapi dengan tidak serius serius (bahkan sering hilang dari peta
sistem perujukan). Baru akan diperhatikan jika ternyata sudah mengalami masalah yang sulit.
Dalam syering pengalaman pun orang tua sering menganjurkan pada orang tua lain dengan
kata-kata: “
special education specialist) dengan membawaIndividual Education).23. Jika memang anak mempunyai masalah dalam perkembangan motorik (sebagaistimulasi saja terus mom, nanti juga bisa catching up, anakku juga dulu begitu...”
Kita sungguh sangat membutuhkan protokol dan jalur rujukan yang jelas. Nampaknya
kebutuhan ini memang sangat mendesak, mengingat pemerintah juga sudah mengeluarkan
berbagai Permendiknas tentang sekolah inklusi yang harus segera diselenggarakan.
Disamping itu anak-anak berkekhususan kita memang tidak dapat menunggu lebih lama lagi.
Kita sungguh sangat membutuhkan protokol dan jalur rujukan yang jelas. Nampaknya
kebutuhan ini memang sangat mendesak, mengingat pemerintah juga sudah mengeluarkan
berbagai Permendiknas tentang sekolah inklusi yang harus segera diselenggarakan.
Disamping itu anak-anak berkekhususan kita memang tidak dapat menunggu lebih lama lagi.
Membutuhkan pelayanan kolaboratif dan multidisiplin
23
van Tiel, JM (2007 dan 2008):
perkembangan, memahami dan mengasuhnya
Untuk lebih jelasnya dapat dibaca dalam buku:Anakku terlambat bicara, anak berbakat yang mengalami disinkronitas, Prenada Media, Jakarta.
Pelayanan kolaboratif dan multidisiplin artinya bukan memberikan pelayanan secara
bersama-sama oleh beragam tenaga profesi dari berbagai disiplin ilmu, dengan menggunakan
alat ukur yang sama (misalnya kriteria untuk autisme dari DSM IV), lalu bersama-sama
mengambil kesimpulannya. Bentuk seperti ini disebut sebagai kalibrasi.
Pelayanan kolaboratif dan multidisiplin adalah suatu bentuk pelayanan dimana
masing-masing tenaga profesi memberikan pelayanan masing-masing berdasarkan
keilmuannya. Lihat contoh dalam bahasan “Memerlukan jalur perujukan dan protokol yang
jelas” di atas.
Pelayanan kolaboratif dan multidisiplin ini dibutuhkan karena pada seorang anak
berkekhususan masalah yang disandang anak bisa beragam bentuk, dan bisa mengakibatkan
ke masalah lain, dan atau diikuti oleh masalah lain. Anak-anak inipun harus dipantau secara
longitudinal – jangka panjang berkesinambungan – untuk melihat gejala yang bisa
menghilang, menipis, menetap – kronis, atau bahkan menjadi lebih parah. Maka anak ini tidak
bisa dijelaskan hanya oleh satu disiplin saja tetapi oleh banyak disiplin ilmu. Setiap disiplin
ilmu akan membahasnya dari sudut pandangnya, dan melihat kumpulan gejala-gejala sesuai
dengan sudut pandangnya. Dan kumpulan gejala itu kemudian disebut sebagai diagnosa.
Kita ambilkan contoh, anak penyandang
Learning Disabilities. Learning Disabilities
dapat berupa gangguan membaca murni, gangguan menulis, dan gangguan berhitung, dengan
segala macam tipe dan subtipenya. Bahasan
pekerjaan seorang tenaga orthopedagogi. Orthopedagog lah yang mempunyai ilmu untuk
menegakkan seorang anak apakah mempunyai gangguan
Sekalipun pada dasarnya
tidak disebabkan oleh gangguan lain, dan tidak menyebabkan gangguan lain (yang sama-sama
permanen) dan area dari orthopedagogi, tetapi akibat dari
mendapatkan layanan kekhususan akan dapat memunculkan masalah lain sebagai masalah
sekunder, seperti misalnya kefrustrasian, penarikan diri, rasa percaya diri yang merosot,
konsep diri negatip, depresi, dan bahkan memunculkan masalah perilaku. Kepadanya juga
memerlukan perhatian dari seorang tenaga psikologi perkembangan. Anak-anak yang
mempunyai gangguan neurologis sebagainya penyandang
seringkali diikuti dengan gangguan neurologis lainnya, karena itu harus diperiksa baik-baik
oleh seorang dokter neurologi.
Hambatan yang sering terjadi dari pihak orang tua untuk menjalankan/menerima
layanan kolaboratif multidisiplin ini adalah selain masalah dana, juga kadang masih ada
keraguan orang tua mengapa si anak harus diperiksa oleh banyak profesi. Dalam hal ini orang
tua memerlukan bantuan informasi yang baik tentang seluk beluk dunia anak berkekhususan.
Alasan lain yang menghambat, selain perasaan orang tua yang kecewa terhadap anak,
juga anak sendiri sering tidak mau dibawa untuk diperiksa kemana-mana.
Learning Disabilities sebenarnya adalah areaLearning Disabilities atau tidak.Learning Disabilities adalah gangguan yang eksklusif. IaLearning Disabilities jika tidakLearning Disabilities ini juga
Membutuhkan tawaran pendidikan yang adaptif
Pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan anak adalah suatu pendekatan yang dirasa
sangat ideal. Namun membangun pendidikan ini bukanlah hal yang mudah. Selain pendidikan
ini harus adaptif dan dapat diterima anak, ia juga membutuhkan pilar penunjang yang juga
banyak membutuhkan sumber (SDM, dana, materi, metoda, lembaga) dan waktu. Tanpa
adanya itu semua tujuan yang diharapkan mustahil dapat dicapai. Namun inilah tantangan
bagi kita semua. Tantangan semakin besar manakala kelompok yang memperjuangkan
pendidikan yang adaptif ini harus bertarung dengan pejuang kelompok pendidikan untuk
anak-anak normal yang populasinya memang lebih besar.
Banyak sekali sudah buku-buku sebagai sumber untuk memahami pendidikan yang
adaptif ini, namun pada umumnya buku-buku itu menjelaskan program dan strategi sesuai
dengan kondisi yang ada di negara setempat. Karena itu dirasa sangat sulit bagi kita untuk
memulainya dari mana. Padahal sementara itu pendidikan yang adaptif ini sungguh akan
menjadi suatu pendidikan yang sangat beragam, yang disebabkan karena kekhususan anak
juga sangat beragam.
Banyak sudah ulasan-ulasan di negara kita bahwa kita membutuhkan pendidikan yang
adaptif, atau pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan anak, yang kemudian disebut sebagai
kelas inklusi. Bahkan Permendiknasnya pun sudah ada. Tetapi juklak dan juknisnya belum
ada, pelaksanaannya perlu dikembangkan sendiri di lapangan, yang konsekwensinya akhirnya
bentuk sekolah inklusi sangat beragam dari satu sekolah ke sekolah lain.
Ulasan-ulasan yang ada seringkali hanya mengupas secara garis besar. Jadi
bagaimana sebetulnya pendidikan yang adaptif, yang sesuai dengan kebutuhan anak itu?
Banyak yang mengatakan:
disajikan ini menggunakan metoda apa? Jawabnya:
Dua kalimat itu (
mengundang banyak pertanyaan tentang seberapa besar kualitas pendidikan yang disajikan?
Tidak adakah dasar-dasar pendidikan kekhususan yang dapat dipegang oleh guru dan bisa
diinformasikan kepada orang tua?
Pendidikan yang adaptif akan menuntut perubahan yang besar bukan saja dasar
kurikulum berubah dari
tetapi juga keterbukaan sekolah dalam memberikan pelayanan. Mau tidak mau, pendidikan
yang adaptif ini membutuhkan bantuan dari segala penjuru, baik bantuan dari orang tua,
masyarakat, berbagai lembaga yang berkaitan terutama pihak universitas yang senantiasa
mengembangkan ilmu kependidikan dan pendeteksian kekhususan.
Dalam pendidikan dengan murid di dalam kelas yang beragam, artinya juga akan
menuntut kurikulum yang beragam atau biasa disebut sebagai
Tetapi bukan itu saja, di dalam kelas akan pula kita temui keragam murid yang berarti juga
kita akan menjumpai
semuanya.
Artinya agar cita-cita penyelenggaraan pendidikan yang adaptif bisa tercapai, disini
setiap sekolah membutuhkan dua strategi pengembangan:
1. Strategi perluasan jejaring sekolah
2. Strategi pendalaman masalah
dibutuhkan kreativitas guru. Atau jika ditanya, pendidikan yangmetoda hati nurani.dibutuhkan kreativitas guru; dan metoda hati nurani) tentu saja akancontent-based curriculum ke arah competence-based curriculum,kurikulum berdiferensiasi.perkembangan anak yang berdiferensiasi. Guru kelas harus memahami
Strategi perluasan jejaring sekolah
Apabila dahulu kita dalam menjalankan tugas pendidikan, lembaga pendidikan atau
sekolah dapat berdiri sendiri tanpa bantuan lembaga lain, maka dengan adanya anak yang
membutuhkan perhatian ekstra ini ataupun anak berkebutuhan khusus ini justru kita
memerlukan bantuan dari lembaga-lembaga lain. Dalam hal ini guru tidak mungkin
(sekalipun secara kreatif) mengatasi masalah seorang diri. Karena masalah yang dihadapi
perlu penjelasan dari berbagai disiplin ilmu secara terpadu. Tugas guru memang menjadi
semakin berat, karena itu guru kelas juga memerlukan dukungan dari tenaga-tenaga lain yang
memahami persoalan, agar tugas pendidikan dapat dijalankan dengan baik
Untuk lebih mudahnya memahami bagaimana perluasan jejaring sekolah adalah
sebagai berikut (lihat gambar di bawah ini). Lembaga sekolah dapat meminta bantuan
keahlian (dalam rangka pendidikan) kepada tenaga ahli kependidikan berkekhususan dan
psikolog sekolah yang memahami anak-anak yang mempunyai masalah. Dua tenaga ahli ini
pada hakikatnya perlu membangun suatu lembaga di luar sekolah, yang sewaktu-waktu dapat
dimintai bantuan oleh pihak sekolah. Dengan demikian sekolah tidak langsung berhubungan
dengan dokter, tetapi dapat melalui lembaga bantuan psikologi-dan pedagogi
24 .25.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar